Inflasi menjadi tantangan nyata bagi Indonesia. Laju inflasi nasional dipengaruhi beberapa faktor.
Tidak hanya internal, kondisi ini dipicu permasalahan eksternal, seperti kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), dan kondisi Geopolitikal dunia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka inflasi di Tanah Air pada Juli 2022 sebesar 4,94% yoy. Meski demikian, angka ini diklaim jauh lebih rendah dibandingkan negara lain, yakni Thailand, India, dan Filipina.
Khusus di Bali, angka inflasi per Juli 2022 sebesar 6,73% yoy. Deputi Direktur Kantor Pewakilan Bank Indonesia Bali, M. Setyawan Santoso mengatakan, inflasi dipicu cost push inflation dan demand.
“Nah sekarang ini inflasi dari dua-duanya. Jadi demandnya lemah, tapi costnya juga naik. Costnya dari mana? dari volatile Food, dari barang-barang,” ungkapnya kepada wartawan di Denpasar, Selasa 2/8/2022 lalu.
Diakui, volatile food memberikan dorongan signifikan terhadap kenaikan inflasi di Bali. Jika dibandingkan Jawa, inflasi Pulau Dewata tergolong rapuh. Penyebabnya adalah keterbatasan pasokan makanan.
Bali disebut masih memiliki ketergantungan pasokan makanan dari daerah lain. “Jadi daerah dimana produksi makanannya banyak, padinya banyak, palawijanya banyak, ketahanan pangannya kan bagus, inflasi volatilenya rendah. Tapi untuk Bali, kita ini banyakan impor barang-barang, dari Jawa kita impor ke Bali. Sehingga inflasi kita cukup tinggi, volatile foodnya perlu diwaspadai,” ujarnya.
Menyikapi kondisi ini, pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) telah merancang sejumlah strategi. Strategi yang ditempuh seperti operasi pasar murah. Operasi pasar murah diharapkan mampu mengembalikan pola pikir soal ketersediaan pasokan. “Jadi nanti pedagang-pedagang akan menurunkan harga,” sebutnya. Langkah lain dengan mengadakan KAD (Kerjasama Antar Daerah). KAD ini memiliki skema sinergis dalam pemenuhan kebutuhan pokok di Bali. “Jadi daerah yang surplus kita kerjasama untuk dikirim ke Bali untuk tujuan memotong mata rantai,” jelasnya.
“Karena yang bikin panjang adalah rantainya. Barang-barang dari Jawa itu banyak yang ke Bali, seperti bawang, sembako, cabai,” lanjutnya. Pihaknya berharap, seluruh langkah itu dapat menekan laju inflasi. “Karena inflasi adalah invisible thief, maling yang tidak kelihatan. Duit kita tidak hilang, tetapi daya beli kita yang hilang,” pungkasnya. (sumber berita, foto: rri.co.id)
