Catatan Kecil: D.Wijaya
—————–
Sepak bola Indonesia tidak sedang baik baik saja, Indonesia yang terpilih oleh FIFA sebagai tuan rumah penyelenggaraan piala dunia U-20 akhirnya batal di gelar karena alasan “kondisi terkini” di Indonesia. Kondisi terkini apakah itu?, tidak seorangpun yang dapat menjelaskannya dengan terang benderang. Ada yang menghubungkannya dengan tragedi sepak bola Indonesia di Stadion Kanjuruhan, Malang Jawa timur pada awal oktober tahun 2022 lalu yang menewaskan 135 jiwa manusia.
Indonesia bersedih, kecewa bahkan mungkin marah, khususnya para pelatih, pemain, pecinta dan juga industri bola. Bagaimana tidak, tiga tahun lebih persiapannya. Atas permintaan Pemerintah Indonesia sendiri, akhirnya FIFA memilih Indonesia dari tiga Negara yang mengajukan diri sebagai tuan rumah. Tok, piala dunia Sepak Bola U-20 akan digelar pada Mei higga Juni 2023 mendatang. Namun, injury time dibatalkan karena kita sendiri, … padahal dulu Indonesia yang minta. “Badah.”!?
Berita yang beredar di media masa, batalnya penyelenggaraan piala dunia U-20 di Indonesia, lebih dikarenakan adanya penolakan dari dua Kepala Daerah. Gubernur Bali Wayan Koster, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menolak kesebelasan Israel untuk merumput di wilayahnya. Penolakan itu dibenarkan, terkait haluan politik yang semata-mata karena “alasan kemanusiaan” jelas Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto pada satu kesempatan.
Sebagai masyarakat kampung yang awam bola turut menyayangkan peristiwa itu, kecewa. Selain ada harapan membawa nama besar Bangsa di kancah olah raga internasional, dengan digelarnya piala Dunia di Indonesia (juga Bali) tentu ada dampak ikutan dari sisi ekonomi, dampak pada UMKM, ini yang penulis dapat maknai.
Apapun itu, untuk mengingatnya ijinkan penulis mencatat dua hal kecil berikut. Pertama, selama Israel lolos bermain di piala Dunia, selama itu juga tidak akan ada piala Dunia di Indonesia, sebelum haluan politik Indonesia berubah. Kedua, mari kita mencoba mengenang pejuang dan juga pendeta, penerima hadiah Nobel Perdamaian Dunia, Martin Luther King Jr. Kiprahnya dan perjuangannya melawan kesenjangan Ras di Amerika Serikat, pernah berkata “We must accept finite disappointment, but never lose infinite hope.” Kita harus menerima kekecewaan yang terbatas. Tetapi, jangan pernah kehilangan harapan yang tidak terbatas. Harapan sepak bola Indonesia untuk tampil di piala dunia masih terbuka, yang penting tidak kehilangan harapan gara-gara pembatalan tersebut.
Sambil mengenang Martin Luther King Jr. yang tepat hari ini 4 April 1968, 55 tahun yang lalu meninggal terbunuh, karena pilihan sikapnya membela persamaan ras, dan kalau disandingkan pada kasus sepak bola Indonesia hari ini, prakiraan penulis adalah “masih ada kesenjangan haluan politik” yang harus diperjuangkan oleh para pecinta bola tanah air, agar supaya suatu hari nanti ada piala dunia sepak bola bisa berlaga di Indonesia. Berikutnya, politik bisa berbeda tetapi dengan bola dapat menyatukannya.
