Pengertian “hidup” dalam catatan ini tidak merujuk pada definisi biologis atau teknis, melainkan reflektif dan filosofis. Apa Itu hidup?, Pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab, hanya bisa dijalani.
Kita tumbuh dengan harapan bahwa hidup akan memberi kejelasan, padahal sering kali justru hidup mengajarkan kita cara berdamai dengan ketidakpastian.
Kita diajari untuk mengejar cita-cita, tapi jarang diberitahu bahwa gagal juga bagian dari perjalanan. Bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan, tapi bisa diterima. Bahwa kehilangan tak selalu berarti akhir, tapi bisa jadi pintu menuju awal yang baru.
Hidup tidak datang dengan peta. Ia seperti sungai yang mengalir, kadang tenang, kadang deras. Kita hanya bisa belajar berenang, bukan mengatur arusnya. Ada hari di mana segalanya terasa bermakna, dan ada pula hari di mana bangun dari tempat tidur pun sudah terasa seperti kemenangan kecil.
Kita sering mencari “arti hidup”, padahal bisa jadi, hidup tak butuh ditafsirkan, hanya perlu dihayati, dijalani. Dijalani dengan jujur, meski tak selalu mudah. Diterima dengan lapang, meski tak selalu indah. Dan dicintai, meski penuh luka.
Hidup bukan tentang menaklukkan dunia, tapi tentang mengenal diri sendiri di tengah riuhnya dunia. Hidup hanyalah ruang kecil untuk bertumbuh, untuk belajar menjadi manusia.
