Eksistensialisme Kierkegaard Bertemu Konsep: Satyam, Siwam, Sundaram

Oleh: D. Wijaya

Filsuf Denmark, Soren Kierkegaard (1813–1855) yang sering disebut sebagai Bapak Eksistensialisme, punya teori mengenai tahapan dalam kehidupan yaitu: Estetis, Etis, dan Religious, ternyata menemukan nuansa serupa dalam kebijaksanaan Hindu tentang: Satyam, Siwam, dan Sundaram. Meski berbeda bahasa, antara Barat dan Timur namun demikian berbicara tentang arah yang sama.

Hidup, bagi Kierkegaard, bukanlah sebuah keadaan yang statis, melainkan perjalanan eksistensi yang penuh dinamika. Manusia tidak pernah “selesai” dengan dirinya; ia selalu dituntut untuk bergerak, bertumbuh, dan melampaui tahap-tahap kehidupannya. Kierkegaard menyebut tiga tahap yang harus dilalui yaitu: 1) Estetis, ketika hidup hanya dipandang dari sisi kesenangan dan keindahan; 2) Etis, ketika manusia mulai menimbang tanggung jawab, moralitas, dan pilihan yang lebih matang; hingga akhirnya 3) religius, tahap tertinggi di mana manusia berjumpa dengan yang transenden, melampaui dirinya menuju kepada Tuhan.

Menariknya, perjalanan eksistensial ini menemukan gema yang begitu indah dalam kebijaksanaan Hindu, khususnya dalam konsep : Satyam, Siwam, Sundaram.

  • Satyam (kebenaran) mengingatkan pada kebutuhan manusia akan kejujuran eksistensial, mencari makna sejati, bukan sekadar menikmati permukaan.
  • Siwam (kebajikan, kesucian) mencerminkan tahap etis, ketika hidup dijalani dengan kesadaran moral dan tanggung jawab sosial.
  • Sundaram (keindahan) adalah puncak yang melampaui, keindahan rohani yang lahir dari kesatuan dengan yang ilahi, selaras dengan tahap religius Kierkegaard.

Dua tradisi besar, Barat dan Timur, meskipun menggunakan bahasa dan istilah yang berbeda, ternyata berbicara tentang arah yang sama: manusia dipanggil untuk bertumbuh, dan terus melangkah menuju kedalaman eksistensi. Yang satu berbicara dengan kerangka eksistensial, yang lain dengan bahasa spiritual. Namun keduanya seakan bersepakat: hidup adalah sebuah ziarah menuju keutuhan diri.

Meski berbeda bahasa, yang satu dari barat dan satunya dari timur namun demikian berbicara tentang arah yang sama. Keduanya melihat hidup sebagai perjalanan bertahap menuju kedalaman eksistensi. Dimulai dari pesona indrawi (keindahan/estetis), naik menuju tanggung jawab dan kebenaran (etis/satyam), lalu berpuncak pada iman, kesucian, dan penyatuan dengan yang Ilahi (religius/siwam).

Dengan kata lain, baik Kierkegaard dan salah satu ajaran Hindu (Satyam, Siwam, Sundaram) sama-sama mengajarkan bahwa hidup manusia bukan berhenti pada estetis (keindahan), melainkan sebuah proses pendakian menuju kebenaran (etis/satyam) dan kesucian (religius/siwam). (D.Wijaya 9/9/2025)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *