D.Wijaya
Pengertian “hidup” dalam buku ini tidak merujuk pada definisi biologis atau teknis, melainkan reflektif dan filosofis. Apa Itu hidup?, Pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab, hanya bisa dijalani. Manusia tumbuh dengan harapan bahwa hidup akan memberi kejelasan, padahal sering kali justru hidup hanya mengajarkan cara untuk berdamai dengan ketidakpastian.
Dari kecil manusia diajari untuk menggapai cita-cita, pencapaian dan sukses, tapi jarang diberitahu bahwa gagal juga bagian dari perjalanan itu. Tidak semua luka diciptakan untuk sembuh, ada luka yang hadir hanya untuk mengingatkan betapa rapuhnya hidup sebagai manusia, dan betapa berharganya setiap kejadian yang dilalui. Namun manusia punya anugerah yang lebih lembut dari sekadar penyembuhan: penerimaan. Ketika kita mampu menerima luka yang tak bisa diubah, kita sedang belajar melihat bahwa hidup apa adanya—tanpa ilusi kesempurnaan.
Hidup tidak pernah menawarkan peta yang pasti, Ia lebih mirip jalan setapak yang berubah setiap kita melangkah. Kadang lapang, kadang berkelok, dan sering kali sulit ditebak. Yang bisa dilakukan hanyalah hadir sepenuh hati pada setiap langkah. Ada hari ketika segalanya terasa jernih, dan ada pula hari ketika sekadar bertahan sudah merupakan kesempatan yang patut dihargai.
Kita sering mencari “arti hidup”, padahal bisa jadi, hidup tak butuh ditafsirkan, hanya perlu dihayati, dijalani. Dijalani dengan jujur meski tak selalu mudah, diterima dengan lapang meski tak selalu indah, dan dicintai meski penuh luka. Hidup bukan tentang menaklukkan dunia, tapi tentang mengenal dan menaklukkan diri sendiri di tengah riuhnya dunia. Hidup hanyalah ruang kecil dan pendek untuk bertumbuh tempat belajar menjadi manusia.
Pertanyaan Tak Selesai
Pertanyaan yang kelihatannya sepele, namun menyingkap kedalaman makna. Apa itu hidup? Manusia tumbuh dengan keyakinan dari pelajaran yang seakan menjawab segalanya: bahwa bila mereka patuh, berusaha, dan mengikuti aturan, hidup akan berjalan baik. Tapi, tidak ada jaminan untuk itu, tak ada yang benar-benar siap saat hidup terjadi sebaliknya, berisi: luka, kehilangan, atau jalan yang membingungkan.
Hidup bukan soal menemukan jawaban yang pasti, hidup membutuhkan keberanian untuk terus bertanya. Seringkali, pertanyaan itu sendiri yang menjadi penuntun untuk mencari arah. Terkadang arahnya sudah ketemu, kemudian arah pun berubah lagi. Kita ingin stabil, tapi hidup justru bergerak, barangkali, kebijaksanaan bukan tentang menguasai hidup, tapi tentang belajar berjalan bersama ketidakpastian.
Definisi hidup tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa, Ia cukup diselami, didengarkan, dan dijalani. Bila dalam perjalanan tidak menemukan arti hidup secara mutlak, paling tidak dapat menemukan versi kecil dari kita masing-masing. Misal kegembiraan dalam keheningan pagi bersama secangkir kopi, dalam tawa yang tulus, dalam kehidupan sederhana yang mendamaikan pikiran, dst.
Pertanyaan mengenai hidup dan kehidupan tidak hanya sekarang, Socrates pada 470–399 SM telah mempertanyakannya. “Bagaimana seharusnya manusia hidup?” Ia menekankan pentingnya mengenal diri sendiri dan melihat hidup sebagai perjalanan moral, bukan sekadar keberlangsungan biologis.
Pertanyaan Socrates tersebut menggema sepanjang sejarah filsafat. Abad ke-19, Soren Kierkegaard menyebut hidup manusia adalah persoalan eksistensi yang tak bisa dilepaskan dari kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab pribadi. Perspektif Albert Camus di abad ke-20 berbeda, Ia memandang hidup sebagai sesuatu yang absurd, manusia mencari makna hidup di dunia, tapi dunia tidak memberikan jawaban pasti.
Socrates mengingatkan “The unexamined life is not worth living.” bahwa hidup yang tidak dipertanyakan adalah hidup yang hampa. Hidup yang tidak dimaknai tidak layak dijalani. Tapi bagaimana jika setiap pertanyaan justru melahirkan pertanyaan baru? Bagaimana jika makna tidak berada di ujung, melainkan tersebar di sepanjang perjalanan hidup?
Hidup senantiasa bermakna, hanya karena kurangnya pemahaman, kita terus mempertanyakannya. Bahkan di dalam penderitaan yang terdalam, manusia masih bisa memilih cara menjalaninya. Hidup tidak selalu memberi penjelasan, tapi ia selalu memberi ruang: untuk merasa, untuk tumbuh, untuk jatuh dan kembali bangkit. Tidak semua peristiwa dalam hidup dapat dipahami secara rasional atau langsung. Ada hal-hal yang terjadi tanpa jawaban yang memuaskan: kehilangan, kegagalan, kebetulan, atau jalan hidup yang berliku.
Dari : Buku “Hidup Itu Sama, dari Barat Ke Timur Menuju Damai” Karya D.Wijaya
