Masih banyak orang yang menganggap dunia maya sebagai ruang yang terpisah dari kenyataan, seolah apa yang terjadi di layar tidak memiliki dampak di kehidupan sehari-hari. Padahal, hari ini batas antara dunia fisik dan dunia digital nyaris tidak ada lagi. Reputasi dibangun dan dihancurkan di media sosial, keputusan politik dipengaruhi oleh informasi yang beredar di internet, dan hubungan antar manusia dibentuk oleh percakapan di ruang digital. Jika dampaknya nyata, maka dunia yang melahirkannya juga nyata. Karena itu, istilah “dunia maya” sering kali menyesatkan; yang maya sesungguhnya telah menjadi bagian dari realitas hidup manusia.

Dalam ruang publik fisik, kita tidak boleh berteriak “ada kebakaran” ketika tidak ada api. Kebebasan berbicara tidak pernah berarti kebebasan menciptakan kepanikan. Prinsip yang sama berlaku di ruang digital. Menyebarkan hoaks bukanlah sekadar menggunakan hak untuk berekspresi, melainkan tindakan yang dapat menyesatkan, memicu ketakutan, merusak reputasi, bahkan mengancam keselamatan orang lain. Bedanya, jika teriakan palsu di sebuah gedung hanya menjangkau puluhan orang, sebuah hoaks di internet dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Kebohongan yang tersebar melalui teknologi memiliki daya rusak yang jauh lebih besar daripada kebohongan yang diucapkan secara langsung.

Karena itu, masyarakat digital membutuhkan etika yang sama kuatnya dengan masyarakat fisik. Kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, dan hak berbicara harus disertai kesediaan mempertanggungjawabkan akibat dari ucapan tersebut. Hoaks bukanlah opini, melainkan manipulasi terhadap ruang publik. Ia merusak kepercayaan, sementara kepercayaan adalah fondasi utama kehidupan bersama. Maya itu nyata. Maka dusta di dalamnya juga nyata, luka yang ditimbulkannya nyata, dan konsekuensi hukum maupun moral yang mengikutinya pun harus nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *