Nilai tukar rupiah melambung terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (19/9/2024). Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,63 persen (96 poin) ke level Rp15.239 per dolar AS.
Pemotongan suku bunga The Fed yang cukup besar tampaknya mempengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Hal itu menimbulkan rasa optimistis sekaligus kekhawatiran di lain sisi.
“Pemotongan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin memicu kekhawatiran akan perekonomian yang melambat,” kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi. Menurut dia, bank sentral AS khawatir perlambatan pasar tenaga kerja berpotensi menimbulkan hambatan-hambatan ekonomi dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, suku bunga rendah menjadi pertanda baik bagi aktivitas perekonomian. Namun, Ketua The Fed, Jerome Powell, mengisyaratkan tidak berniat kembali ke era suku bunga rendah.
“Komentar Powell menunjukkan suku bunga akan turun dalam jangka pendek,” ujar Ibrahim. Pada saat bersamaan, lanjut dia, The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka menengah dan panjang.
Ibrahim juga mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga lebih cepat pada September 2024. Hal ini dinilai berani, taktis dan antisipatif untuk menopang penguatan ekonomi di tengah melemahnya sejumlah indikator ekonomi.
“Pelemahan itu terlihat dari deflasi empat bulan berturut-turut dan indeks PMI manufaktur yang turun,” ujarnya. Demikian pula indeks kepercayaan pelaku usaha dan konsumen yang merosot dibarengi tingkat pengangguran yang meningkat.
Penurunan suku bunga acuan BI menjadi enam persen diharapkan membuat sektor perbankan ikut menurunkan suku bunga pinjamannya. Sehingga kredit perbankan pada dunia usaha meningkat demi menggerakkan roda perekonomian.(sumber:rri.co.id)
