D.Wijaya
Tidak bermaksud memperkarakan sinetron atau konten viral sebagai karya seni. Setiap zaman memiliki bentuk ekspresi dan hiburannya sendiri, dan sinetron—seperti sastra, film, atau teater—adalah produk kreativitas manusia. Persoalannya bukan pada karya, melainkan pada cara kita menghabiskan hidup di hadapannya.
Masalah muncul ketika hiburan tidak lagi menjadi jeda, melainkan pusat. Ketika menonton bukan lagi pilihan sadar, tetapi kebiasaan tanpa kendali. Jam demi jam berlalu, bukan karena kita sedang menikmati karya, melainkan karena kita lupa berhenti. Di titik inilah hiburan perlahan menggantikan kesadaran.
Sinetron dan konten digital menawarkan kenyamanan: alur yang mengalir, emosi yang siap pakai, dan dunia yang tidak menuntut keterlibatan batin. Kita cukup duduk dan menerima. Berbeda dengan hidup nyata yang menuntut kehadiran, tanggung jawab, dan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian. Hiburan lalu menjadi tempat pelarian yang halus—tidak terasa sebagai lari, tetapi sebagai kebiasaan.
Konten viral memperkuat pola ini. Yang viral bukan selalu yang bernilai, melainkan yang cepat memancing reaksi. Kita tertawa, marah, atau terharu secara instan, lalu berpindah ke konten berikutnya. Emosi menjadi cepat, dangkal, dan mudah berlalu. Bukan karena kita tidak mampu merasakan lebih dalam, tetapi karena kita jarang memberi waktu untuk itu.
Yang patut dikritisi adalah budaya lupa diri. Lupa waktu, lupa tubuh, lupa relasi, bahkan lupa tujuan. Layar terus menyala, sementara hidup nyata menunggu tanpa banyak suara. Anak-anak tumbuh dengan perhatian terbagi, percakapan digantikan oleh tontonan, dan keheningan dianggap gangguan.
Sekali lagi, ini bukan seruan untuk memusuhi hiburan. Hiburan adalah bagian dari hidup yang sehat. Yang menjadi soal adalah ketika hiburan dikonsumsi tanpa kesadaran, tanpa batas, dan tanpa refleksi. Ketika kita lebih hafal cerita di layar daripada cerita hidup kita sendiri.
Barangkali yang kita butuhkan bukan tontonan yang lebih bermutu saja, tetapi penonton yang lebih sadar. Manusia yang tahu kapan menikmati, kapan berhenti, dan kapan kembali hadir sepenuhnya dalam hidupnya sendiri. Tidak terjebak dalam ilusi dan fantasi.
Pada akhirnya, hidup tidak meminta kita untuk menolak layar, melainkan untuk tidak menyerahkan diri sepenuhnya kepadanya. Sebab karya seni, seindah apa pun, tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan hidup. Ia hanya menemani—bukan mengambil alih.
