“Melangkah pelan bukan berarti tertinggal; sering kali itulah cara paling jujur untuk sampai.”     

Hari ini aku belajar bahwa tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan tergesa. Ada masa ketika melangkah pelan justru menjadi pilihan yang paling bijak. Bukan karena ragu, melainkan karena ingin memastikan setiap langkah berpijak dengan sadar dan arah tetap terjaga.

Melangkah pelan memberiku ruang untuk memperhatikan hal-hal yang sering terlewat ketika aku terlalu sibuk mengejar tujuan. Aku mulai peka pada tanda-tanda kecil: tubuh yang lelah, pikiran yang perlu jeda, dan hati yang meminta kejujuran. Dalam kelambatan itu, aku belajar menghormati batas diri tanpa merasa kalah.

            Aku menyadari bahwa kecepatan sering kali menipu. Ia memberi ilusi kemajuan, padahal belum tentu membawa kedalaman. Sebaliknya, langkah yang pelan namun konsisten justru menumbuhkan keteguhan. Setiap keputusan menjadi lebih matang karena tidak lahir dari dorongan, melainkan dari pertimbangan.

            Hari ini aku memilih untuk tidak terburu-buru. Sebab hidup bukan lomba siapa yang paling cepat sampai, melainkan perjalanan tentang bagaimana aku tiba dengan utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *