Saya tidak terbiasa minum arak, kehadiran di Hari Arak Bali ke-6 di The Westin Nusa Dua kemaren (29/01/26) menjalankan mandat—mewakili asosiasi BPR—dan ternyata menemukan sebentuk panggilan untuk memahami lebih dalam makna arak dan brem Bali. Hadir bukan untuk meneguknya lalu mabuk, melainkan untuk membaca jejak pengetahuan, warisan budaya, dan arah masa depan yang dikandung di dalamnya.

Di ruang pertemuan itu, hadir Putu Juli Ardika Plt Direktur Jendral Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Gubernur Bali Wayan Koster dan banyak pejabat terkait lainnya. Di acara yang bertema “Local Spirit Goes Global” itu, arak dan brem Bali tidak ditampilkan sebagai minuman semata, melainkan sebagai hasil peradaban: lahir dari alam, diolah oleh kearifan desa, dan dijaga oleh tradisi lintas generasi. Ia berdiri sebagai narasi tentang kerja kolektif, nilai spiritual, dan ekonomi rakyat yang tumbuh pelan namun berakar kuat. Pertanyaannya pun menjadi lebih luas—bukan lagi tentang rasa, melainkan tentang bagaimana warisan ini dirawat, dikelola, dan diberi tempat yang adil dalam tatanan modern.

Arak dan brem lahir dari lanskap Bali yang sederhana: pohon nira, tangan-tangan perajin desa, dan kesabaran proses yang diwariskan lintas generasi. Selama berabad-abad, keduanya hidup di ruang sakral—menyertai upacara, menjadi bagian dari ritual, dan mengikat relasi manusia dengan alam serta leluhur. Ia tidak dibuat untuk pamer, apalagi untuk mabuk; ia dibuat untuk makna.

Ditangan Gubernur Koster arak bergerak menuju modernitas, datang dengan regulasi, pasar, dan stigma. Arak Bali pernah dipinggirkan—diakui sebagai budaya, tetapi dicurigai sebagai produk. Di titik inilah Hari Arak Bali menemukan relevansinya. Bukan sebagai pesta, melainkan sebagai ruang perundingan antara tradisi dan tata kelola modern. Hari Arak ke-6 bukan sekadar perayaan minuman tradisional, melainkan peristiwa kebudayaan, ekonomi, dan identitas

Yang menarik, banyak peserta hadir bukan sebagai konsumen, melainkan sebagai pembelajar. Kehadiran petani nira, koperasi, UMKM, akademisi, hingga industri perhotelan menunjukkan bahwa arak Bali kini dipahami sebagai ekosistem. Dari hulu ke hilir, dari desa ke pasar, dari budaya ke ekonomi. Arak tidak lagi berdiri sendiri; ia terhubung dengan keadilan distribusi, keberlanjutan lingkungan, dan keberpihakan pada masyarakat lokal.

The Westin, sebagai simbol pariwisata global, memberi pesan yang halus namun kuat. Bahwa arak dan brem Bali pantas hadir di ruang-ruang kelas dunia tanpa kehilangan akarnya. Bahwa kemewahan sejati bukanlah keterputusan dari tradisi, melainkan kemampuan merawat tradisi dengan kesadaran dan profesionalisme.

Arak dan brem Bali mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang bernilai harus dikonsumsi untuk dipahami. Ada pengetahuan yang lebih penting daripada rasa di lidah—pengetahuan tentang asal-usul, tentang kerja kolektif, dan tentang keberanian sebuah budaya untuk berdiri tegak di tengah dunia yang serba cepat. (D.Wijaya/Gumikbali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *