Karya seni pada dasarnya adalah ekspresi personal. Namun ketika karya itu lahir dari tangan seorang mantan orang nomor 1 Negeri ini—Susilo Bambang Yudhoyono—Presiden RI-6 ia tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai produk estetika. Identitas penciptanya menghadirkan dimensi lain yang tak terelakkan: dimensi politik, sejarah, dan simbolik. Karena itu, lukisan tersebut bukan hanya karya seni, melainkan peristiwa publik. Ia memantik tafsir, memicu perbincangan, dan sekaligus membuka ruang refleksi tentang bagaimana kepemimpinan dapat menemukan bentuk artikulasinya.
Lukisan berjudul “Kuat dan Energik Laksana Kuda Api” yang terjual melalui lelang dengan nilai Rp6,5 miliar pada 18 Februari 2026 di Djakarta Theater menghadirkan lebih dari sekadar sensasi angka. Diselenggarakan dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek oleh Partai Demokrat. Publik boleh saja terpukau oleh nominalnya, tetapi makna yang terkandung di baliknya jauh melampaui hitungan rupiah. Di sana terdapat narasi tentang transformasi: dari seorang presiden menjadi perupa; dari panggung politik menuju ruang kontemplasi.
Kuda dalam banyak tradisi melambangkan daya juang, kecepatan, dan kebebasan. Api adalah simbol energi, semangat, sekaligus keberanian menghadapi risiko. Dalam perpaduan keduanya, tersirat pesan tentang vitalitas yang tidak padam oleh waktu. Lukisan itu seakan merepresentasikan sebuah keyakinan bahwa semangat pengabdian tidak berhenti ketika jabatan berakhir. Kepemimpinan sejati bukan sekadar soal posisi, melainkan tentang daya hidup yang terus menyala.
Menariknya, hasil lelang karya tersebut diperuntukkan bagi kegiatan kemanusiaan. Di titik inilah seni dan nilai bertemu. Kanvas yang semula menjadi ruang ekspresi personal menjelma menjadi instrumen solidaritas sosial. Ia menunjukkan bahwa kreativitas dapat melampaui dirinya sendiri—berubah menjadi kebermanfaatan bagi sesama.
Peristiwa ini juga memperlihatkan sisi lain dari kepemimpinan: dimensi batin. Selama ini, publik mengenal pemimpin melalui kebijakan, pidato, dan keputusan strategis. Namun seni membuka ruang yang berbeda—ruang di mana seorang pemimpin berbicara lewat warna, garis, dan simbol. Dalam ruang itu, tidak ada hirarki, tidak ada protokol; yang ada hanya dialog antara jiwa dan kanvas.
Lebih jauh, lelang tersebut mengajarkan bahwa nilai sejati tidak selalu diukur oleh angka, tetapi oleh arah. Ketika sebuah karya seni mampu menggerakkan kepedulian sosial, maka ia telah menjalankan fungsi adiluhung: menjembatani keindahan dengan kebaikan. Uang yang terkumpul bukan hanya hasil transaksi, melainkan wujud kepercayaan bahwa seni dapat menjadi medium kebaikan bersama.
Kisah di balik lukisan ini bukan sekadar tentang seorang mantan presiden yang melukis, atau tentang nilai lelang yang besar, Ia adalah cerita tentang kesinambungan makna. Tentang bagaimana kepemimpinan menemukan bentuk baru di ranah seni. Tentang bagaimana nilai tetap hidup, bahkan ketika panggung kekuasaan telah ditinggalkan. Di situlah seni, kepemimpinan, dan nilai bersatu—memberi makna.(D.W/Gumikbali.co.id-Photo dari news.detik.com)
