Gianyar, 4 April 2025 – Di sudut kecil Desa Petak, di Br. Madangan Kaja, hidup seorang pria yang tangannya mahir mengukir kayu, namun kini kehidupannya sendiri terukir dalam ujian berat. I Ketut Supriyadi (44), seorang pengukir yang tangannya dulu menari di atas kayu, kini harus berjuang melawan kelemahan tubuhnya. 

Di rumah sederhana yang menjadi saksi perjalanan hidupnya, ia tinggal bersama istri dan ketiga buah hatinya. Namun, takdir mempertemukan mereka dengan cobaan yang tak terduga. Sang istri, Ni Putu Ayu Rutini, diam-diam menyimpan luka dalam tubuhnya jantungnya bocor, denyutnya tak seirama dengan langkah hidup yang ia perjuangkan. Penyakit ini telah lama bersarang, namun baru dua bulan lalu kepastiannya terungkap.

Sementara itu, Ketut Supriyadi sendiri tak lagi sanggup bekerja dengan gagah seperti dahulu. Kini, beban kehidupan seolah tertumpu pada sang istri, yang dengan ketegaran menjadi tukang jahit demi menghidupi keluarga dan membiayai sekolah ketiga anak mereka. Anak sulungnya berjuang di bangku SMK, yang kedua masih di SMP, dan si bungsu baru saja mengenal dunia di usianya yang baru lima tahun. 

Namun, dalam langit yang tampak kelabu, masih ada cahaya yang mengintip dari balik awan. Redaksi Newsyess datang membawa sinar harapan, menghadirkan tangan-tangan yang tak sekadar memberi, tetapi juga merangkul dalam ketulusan. Sebuah paket sembako, lebih dari sekadar bantuan, ia adalah pesan bahwa mereka tidak sendiri. Ngakan Putu Suardika, atau yang akrab disapa Ngakan Yess, menyampaikan pesan penuh makna, “Berbagi bukan menunggu kaya, dan tak ada yang jatuh miskin karena berbagi. Lakukanlah semampunya. Jika mampu, berbagilah pada banyak orang, jika tidak, cukup pada satu orang saja.”(newsyess.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *