Pertanyaan yang kelihatannya sepele, namun menyingkap kedalaman makna. Apa itu hidup? Manusia tumbuh dengan keyakinan dari pelajaran yang seakan menjawab segalanya: bahwa bila mereka patuh, berusaha, dan mengikuti aturan, hidup akan berjalan baik. Tapi, tidak ada jaminan untuk itu, tak ada yang benar-benar siap saat hidup terjadi sebaliknya, berisi: luka, kehilangan, atau jalan yang membingungkan.

            Hidup bukan soal menemukan jawaban yang pasti, hidup membutuhkan keberanian untuk terus bertanya. Seringkali, pertanyaan itu sendiri yang menjadi penuntun untuk mencari arah. Terkadang arahnya sudah ketemu, kemudian arah pun berubah lagi. Kita ingin stabil, tapi hidup justru bergerak, barangkali, kebijaksanaan bukan tentang menguasai hidup, tapi tentang belajar berjalan bersama ketidakpastian.

            Definisi hidup tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa, Ia cukup diselami, didengarkan, dan dijalani. Bila dalam perjalanan tidak menemukan arti hidup secara mutlak, paling tidak dapat menemukan versi kecil dari kita masing-masing. Misal kegembiraan dalam keheningan pagi bersama secangkir kopi, dalam tawa yang tulus, dalam kehidupan sederhana yang mendamaikan pikiran, dst.

            Pertanyaan mengenai hidup dan kehidupan tidak hanya sekarang, Socrates pada 470–399 SM telah mempertanyakannya. “Bagaimana seharusnya manusia hidup?” Ia menekankan pentingnya mengenal diri sendiri dan melihat hidup sebagai perjalanan moral, bukan sekadar keberlangsungan biologis.

            Pertanyaan Socrates tersebut menggema sepanjang sejarah filsafat. Abad ke-19, Soren Kierkegaard menyebut hidup manusia adalah persoalan eksistensi yang tak bisa dilepaskan dari kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab pribadi. Perspektif Albert Camus di abad ke-20 berbeda, Ia memandang hidup sebagai sesuatu yang absurd, manusia mencari makna hidup di dunia, tapi dunia tidak memberikan jawaban pasti.

            Socrates mengingatkan “The unexamined life is not worth living.” bahwa hidup yang tidak dipertanyakan adalah hidup yang hampa. Hidup yang tidak dimaknai tidak layak dijalani. Tapi bagaimana jika setiap pertanyaan justru melahirkan pertanyaan baru? Bagaimana jika makna tidak berada di ujung, melainkan tersebar di sepanjang perjalanan hidup?

            Hidup senantiasa bermakna, hanya karena kurangnya pemahaman, kita terus mempertanyakannya. Bahkan di dalam penderitaan yang terdalam, manusia masih bisa memilih cara menjalaninya. Hidup tidak selalu memberi penjelasan, tapi ia selalu memberi ruang: untuk merasa, untuk tumbuh, untuk jatuh dan kembali bangkit. Tidak semua peristiwa dalam hidup dapat dipahami secara rasional atau langsung. Ada hal-hal yang terjadi tanpa jawaban yang memuaskan: kehilangan, kegagalan, kebetulan, atau jalan hidup yang berliku./D.Wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *